JATIPURO, 25 September 2025 – SMKN Jatipuro baru saja menggelar acara debat kandidat ketua OSIS sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Milkoi (Pemilihan Ketua OSIS). Acara yang berlangsung pada 12 September ini menghadirkan tiga pasangan calon (paslon) yang saling adu gagasan untuk memperebutkan posisi puncak organisasi siswa tersebut.
Acara dimulai dengan sambutan hangat dari Kepala Sekolah SMKN Jatipuro, Bapak Kaslani, S.Pd., M.Pd. Beliau menyampaikan harapannya agar pemilihan ketua OSIS kali ini dapat menghasilkan pemimpin yang amanah dan mampu membawa perubahan positif bagi sekolah.
Debat dipandu oleh tiga dewan juri yang kompeten di bidangnya, yaitu Bapak Budi Setiawan, S.Pd., Ibu Sugiyanti, S.Pd., dan Bapak Dwi Joko H. Mereka bertugas untuk mengarahkan jalannya debat dan memberikan penilaian terhadap argumentasi yang disampaikan oleh masing-masing paslon.
Sesi 1: Adu Gagasan Sengit
Pada sesi pertama, para kandidat diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapatnya mengenai isu-isu penting yang berkaitan dengan kehidupan siswa di sekolah.
- Paslon 1 membuka debat dengan pernyataan tegas mengenai bullying. Mereka menyampaikan bahwa OSIS diperbolehkan untuk ikut serta dalam menindak pelaku bullying. Namun, jawaban ini dinilai kurang aplikatif karena situasi di lapangan seringkali berbeda dengan teori.
- Paslon 2 mengangkat isu tentang metode ujian, apakah sebaiknya menggunakan gadget atau kertas. Mereka berpendapat bahwa penggunaan kertas lebih baik karena risiko kecurangan lebih kecil. Pendapat ini kemudian disanggah oleh Paslon 3 yang lebih mendukung penggunaan gadget. Hasilnya, adu argumentasi ini dimenangkan oleh Paslon 1.
- Paslon 3 membahas tentang penggunaan WiFi sekolah. Mereka mengusulkan agar WiFi sekolah dapat diakses oleh seluruh siswa. Usulan ini ditentang oleh Paslon 1 yang berpendapat bahwa WiFi sekolah adalah fasilitas yang harus digunakan dengan bijak. Paslon 2 kemudian memberikan solusi dengan mengusulkan pembatasan akses WiFi. Namun, Paslon 3 kembali menyanggah dengan menyatakan bahwa pembatasan tersebut sulit untuk dilakukan.
Sesi 2: Ketika Program Gagal dan AI Jadi Sorotan
Sesi kedua semakin memanas ketika para kandidat dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan yang lebih kritis.
- Paslon 1 mendapat pertanyaan tentang apa yang harus dilakukan jika program OSIS dianggap gagal oleh sebagian besar siswa. Mereka berpendapat bahwa pimpinan OSIS sebaiknya tidak diganti agar dapat menjadi bahan pembelajaran. Namun, pendapat ini disanggah oleh Paslon 3 yang beranggapan bahwa program yang tidak berjalan efektif sebaiknya dievaluasi. Adu argumen ini pun memicu keriuhan di antara para pendukung.
- Paslon 2 membahas tentang penggunaan AI seperti ChatGPT oleh siswa. Mereka setuju bahwa siswa boleh menggunakan AI karena fasilitas di sekolah belum memadai. Namun, Paslon 1 menyanggah dengan mempertanyakan bagaimana jika siswa terlalu bergantung pada AI. Paslon 3 menambahkan bahwa sebagian guru bahkan belum familiar dengan AI. Paslon 2 kemudian membalas dengan menyatakan bahwa guru juga dapat belajar menggunakan AI.
- Paslon 3 mengangkat isu tentang aturan larangan pacaran bagi siswa. Paslon 1 memberikan dukungan penuh terhadap aturan ini dan menambahkan bahwa pacaran itu berdosa.
Hasil Observasi
Berdasarkan pengamatan selama debat berlangsung, Paslon 1 terlihat lebih unggul dalam menyampaikan gagasan dan menjawab pertanyaan. Paslon 3 berada di posisi kedua, sementara Paslon 2 berada di posisi ketiga.
Namun, hasil akhir akan ditentukan oleh pilihan siswa pada saat pemilihan nanti. Siapakah yang akan menjadi Ketua OSIS SMKN Jatipuro periode mendatang? Mari kita tunggu bersama!




